rss

09 April 2010

LARANGAN MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI PERANTARA KEPADA MAKHLUKNYA



Diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im t bahwa
ada seorang badui datang kepada Rasulullah r
dengan mengatakan
: “Ya Rasulullah, orang-orang
pada kehabisan tenaga, anak istri kelaparan, dan
harta benda pada musnah, maka mintalah siraman
hujan untuk kami kapada Rabbmu, sungguh kami
menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu, dan
kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah”.
Maka Nabi bersabda:
“Maha suci Allah, maha suci Allah” – beliau masih
terus bertasbih sampai nampak pada wajah para
sahabat (perasaan takut akan kemarahan beliau),
kemudian beliau bersabda: “Kasihanilah dirimu,
tahukah kalian siapa Allah itu? Sungguh kedudukan
Allah I itu jauh lebih Agung dari pada yang demikian
itu, sesungguhnya tidak dibenarkan Allah dijadikan
sebagai perantara kepada siapapun dari makhluk-
Nya.” (HR. Abu Daud).

Kandungan bab ini:
1. Rasulullah r mengingkari seseorang yang
mengatakan:“Kami menjadikan Allah sebagai
perantara kepadamu.”
Kitab Tauhid 259
2. Rasulullah r marah sekali ketika mendengar
ucapan ini, dan bertasbih berkali-kali, sehingga
para sahabat merasa takut.
3. Rasulullah r tidak mengingkari ucapan badui
“kami menjadikanmu sebagai perantara kepada
Allah”.
4. Penjelasan tentang makna sabda Rasul
“Subhanallah” [yang artinya: Maha Suci Allah].
5. Kaum muslimin menjadikan Rasulullah sebagai
perantara [pada masa hidupnya] untuk
memohon [kepada Allah I] siraman hujan.

0 komentar:


Poskan Komentar