rss

15 Februari 2010

Bukan Romeo & Juliet (Kasihanilah Para Pecinta)


Kedua mahasiswa itu ternyata saling mencintai. Tak ada kata yang diungkapkan. Tapi cinta punya bahasanya sendiri yang lebih indah dari sekedar kata-kata. Sutau bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Di kampus dan bangku kuliah itu cinta mereka bersemi. Di tengah kelas dan lembaran-lembaran kertas kuliah itu cinta mereka bertemu dengan bahasanya sendiri.

Tapi cinta pemuda aktivis dengan gadis inocent itu kandas. Kasih mereka tak sampai kepelaminan. Perbedaan manhaj dan harakah membuat keduanya tak bertemu. Pemuda itu tsiqah pada harakahnya. Ia hanya ingin menikah dengan gadis yang satu harakah dengannya. Tragis. Tragis sekali. Hanya karena berbeda harakah. Karena di hati siapapun cinta yang suci dan tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui disisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah SAW lantas bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan.”

Islam memang begitu. Sebab ia agama kemanusian. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif terhadap semua gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan kemanusian yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai Islam.

Itu karena Islam memahami betapa dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada lelah. Tak ada takut. Tak ada jarak. Tak ada aral. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya rindu, hanya puisi, hanya keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara ke jantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak menyatu bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapa pun yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak arjuna yang sedang jatuh cinta : separoh nafasku terbang bersama dirimu.

Bisakah kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisah tradisi, status sosial, organisasi atau apa saja? Tragedi Zaenudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, atau Qais dan Laila dalam Majnun Laila, terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit. Karena di alam jiwa seharusnya itu mustahil. Tragedi cinta selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab itu, kata Anis Matta, memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai adalah misi terbesar syetan. Sebab itu menjodohkan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah tradisi kenabian.

Suatu ketika, pemuda itu bercerita padaku dengan matanya yang berbinar. “Bukan!” , katanya. “Aku bukan Romeo yang diperbudak oleh cinta hingga harus mati demi Juliet yang pura-pura mati. Aku bukan Qais yang menjadi gila karena Laila. Aku telah serahkan hidup ini untuk Allah dan dakwah ke jalanNya. Aku mencintai jamaah dakwah ini. Aku tak mungkin menyakiti jamaah dakwah ini dengan ikut andil membiarkan banyak akhwat yang tersisih dan menangis dalam penantian. Sedangkan ikhwannya justru memilih akhwat lain diluar jamaah.”

Kawan, aku tahu kau bukan Romeo. Aku tahu kau tak segila Qais. Aku hormati kecintaanmu pada dakwah. Tapi kau harus tahu tentang dirimu. Kau juga manusia. Perasaanmu juga perasaan yang dirasakan jutaan manusia dibelahan bumi yang lain. Apakah dakwahmu harus dengan yang satu harakah? Bukankah Islam rahmatan lil ‘alamin?

Kau bukan berada dalam pilihan dan perseteruan? Allah menguji hatimu sebagai jundiNya. Apakah kau mampu menempatkan Allah dalam istana hatimu atau kah dia, gadismu? Aku mampu melihat sorot matamu yang jujur. Tingkahmu yang menjaga kesucian. Dan keteguhanmu dalam memegang prinsip. Tapi tidak kawan. Tidak harus satu harakah. Tapi Rasulullah menganjurkan yang baik agamanya . Bukankah peradaban Islam itu dibangun melalui keluarga? Bukankah keluarga adalah batu-bata yang menyusunnya? Bukankah menyusunnya itu dengan merekatkan batu bata yang satu dengan yang lain? Bukankah itu semua harus ada unsur ukhuwah? Alangkah indahnya jika pernikahan yang berbeda harakah justru merekatkan ukhuwah antar harakah yang membinanya.

Untuk surplus akhwat dalam suatu jamaah, bukankah pernikahan berbeda harakah bisa jadi solusi? Wallahualam.

Sekarang jika gadismu itu seorang wanita shalihah, cerdas dan cantik sekaligus. Lalu ia mencintaimu? Apakah kau tak ingin menikahinya? Masihkah kau harus istikharah? Lalu berfatwalah pada hatimu?


0 komentar:


Poskan Komentar