rss

Chating ala Cbox

Chating


ShoutMix chat widget

About Me

Foto saya
Samarinda city, Kalimanatan timur, Indonesia
Berperasaan bersih berusaha agar setiap apapun selalu menjadi jalan untuk bisa merasakan Keagungan dan Kasih Sayang Allah Ta’ala. Hidup bagai anak panah yang melesat menuju sasaran yang pasti. Orang beriman sasarannya Allah Ta’ala. Kasih sayang siapapun adalah wujud kasih sayang Allah.

25 Februari 2010

Menjadi Seseorang Aktifis islam


Islam tidak rela atas ketidakberdayaan ummatnya dalam menghadapi kenyataan. Islam tidak
menghendaki kaum muslimin lemah dan takluk kepada musuh – musuhnya. Setiap muslim wajib
bergerak dan berjuang serta berkorban untuk menegakkan Islam, membangun Daulah dan
Khilafah Islamiyyah yang di dalamnya tegak hukum – hukum Allah supaya jangan ada fitnah dan
supaya agama itu semata – mata bagi Allah ( Q.S Al Anfal : 39 ). Ketika itulah setiap mu’min
bergembira dengan pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah
Yang Mahagagah dan Yang Mahamulia.
Karena itu perjuangan melalui amal jama’i yang digerakkan sebuah jama’ah Islam yang menyeru
penggabungan untuk persatuan kaum muslimin seluruh dunia, harus tersusun rapih, kuat dan
terkoordinasi ( Q.S 3 : 103 ). Siroh Rasululloh SAW merupakan pengalaman praktis bagi seluruh
da’wah Islam. Kemudian diikuti oleh Khulafa Al Rasyidin dengan manhaj
rasulullah SAW.
Seluruh organisasi atau bangsa – bangsa, asas keberhasilannya, kebangkitan dan
pembangunannya ialah adanya manhaj tertentu, pimpinan dan anggota kelompok yang bergerak
dengan manhajnya. Syarat ideal yang dimiliki setiap muslim : aqidahnya lurus, ibadahnya benar,
berakhlaq mulia, berfikiran cerdas, bijak, berbadan sehat dan kuat serta berguna bagi manusia,
mampu bergerak dan berjuang, berdisiplin dalam segala hal, menjaga waktunya,
bermujahadatunnafs dan memiliki faktor – faktor asasi sebagai pejuang muslim.
Apapun kedudukan, jabatan dan peringkatnya, setiap aktifis da’wah tetap memikul amanah dan
berbagai tanggung jawab, bukan suatu kemegahan dan kebanggaan. Allah akan meminta
pertanggungjawaban setiap aktifis atas amanah yang dipegangnya dan semua akan dihisab.
A. AMANAH , TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN DAN ANGGOTA.
I. Hal – Hal Yang Membantu Terlaksananya Tugas Pemimpin :
1. Ikhlas karena ALLAH semata, selalu bertindak benar dan jujur kepada-Nya.
2. Peka terhadap pengawasan dan penjagaan ALLAH SWT.
3. Memohon pertolongan dan perlindungan ALLAH dalam seluruh keadaan dan aktivitasnya.
4. Memiliki rasa tanggung jawab besar.
5. Memberikan perhatian yang cukup kepada masalah tarbiyah dan menyiapkan kader
penerus.
6. Terjalinnya rasa kasih sayang dan ukhuwah yang tulus di kalangan anggota organisasi
khususnya anggota dan pimpinan.
7. Pimpinan harus benar – benar merencanakan program yang tepat, menentukan tujuan,
tahapan, cara, sarana, persiapan – persiapan sesuai dengan kemampuan.
8. Setiap anggota organisasi harus merasakan bagaimana beratnya amanah dan tanggung
jawab pimpinan.
9. Pimpinan harus memiliki cita – cita dan tekad berjuang.
Menurut Imam Hasan al-Banna faktor – faktor lain keberhasilan adalah :
1. Kekuatan da’wah kita yang merupakan da’wah ALLAH, da’wah yang paling tinggi dan
mulia.
2. Tujuan yang murni ( ridho ALLAH ), terbebas dari niat kotor dan mencari keuntungan
pribadi.
3. Ketergantungan kita hanya kepada pertolongan dan dukungan ALLAH. ( Q.S 3 : 173 –
174 ) “Kalian tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah kalian, lemahnya sarana
dan kurangnya alat – alat pendukung, atau karena banyaknya musuh kalian,
berkumpulnya musuh – musuh menentang kalian. Tetapi ada satu sebab yang dapat
menghancurkan dan menyebabkan kalian kehilangan segala – galanya, yaitu jika hati
kalian telah rusak, ALLAH tidak memperbaiki amal kalian, suara kalian telah terpecah
belah dan saling bertentangan pendapat “.
Bagian 2
II. Sifat Dan Akhlak Yang Harus Dimiliki Oleh Setiap Pemimpin :
1. Senantiasa mengharapkan akhirat dengan ikhlas karena ALLAH semata.
2. Berdaya ingat kuat, bijak, cerdas, berpengalaman dan berwawasan luas, berpandangan
jauh ke depan dan tajam, mampu menganalisa berbagai persoalan dari segala segi
dengan tepat dan cepat. ( Q.S 3 : 200 )
3. Berperangai penyantun, kasih sayang, lemah lembut dan ramah.( Q.S 3 : 159 )
4. Bersahabat.( Q.S 5 : 54 )
5. Berani dan sportif, tidak pengecut dan membabi buta.( Q.S Al Fath : 29 )
6. Shidiq. ( Q.S Al Ahzab : 23 – 24 )
7. Tawadhu. ( Q.S Asyu’ara : 215 )
8. Memaafkan, menahan amarah dan berlaku ihsan.( Q. S 3 : 134 )
9. Menepati janji dan sumpah setia. ( Q.S Al Fath : 10 )
10. Sabar. ( Q. S 2: 153 )
11. ‘Iffah ( kesucian jiwa ) dan kiram ( tidak mudah untuk tunduk kepada hawa nafsu dan
yang mengotori jiwa. ) Q. S Al Hasyr : 9.
12. Wara’ ( menjauhkan dari hal syubhat ) dan zuhud ( meninggalkan hal berbuat dosa ).
13. Adil dan jujur. ( Q.S 5 : 8 )
14. Tidak mengungkit – ungkit dan menyombongkan diri.
15. Memelihara hal – hal yang dimuliakan ALLAH. ( Q.S Al Hajj : 30 )
16. Berlapang dada dan tidak melayani pengumpat dan pengadu domba.
17. Tekad yang bulat, tawakkal dan yakin. ( Q.S Athalaq : 3 )
18. Sederhana dalam segala hal.
19. Bertahan dalam kebenaran dengan teguh dan pantang mundur.
20. Menjauhi sikap pesimistis dan over estimasi
III. Tabiat Gerakan dan Medannya. Seorang pemimpin harus memperhatikan hal – hal berikut :
1. Harus beriltizam ( taat ) dengan tujuan berdirinya jama’ah.
2. Memelihara keuniversalan tujuan dan medan gerakan sengan seluruh konsekuensinya.
3. Menjaga tabiat tahapan da’wah. ( Tajarrud = berangsur – angsur, ta’rif = pengenalan,
takwin = pembentukan dan tanfidz = pelaksanaan. )
4. Kewajiban memberikan perhatian serius terhadap tarbiyah di setiap peringkat.
5. Memperhatikan seluruh aktivitas politik.
6. Harus mengawasi sikap jama’ah dan jama’ah – jama’ah lainnya.
7. Tahap perjuangan kita yang akan datang lebih ditekankan kepada bentuk jihad dan
menegakkan hukum ALLAH di seluruh aspek kehidupan.
8. Mempersiapkan seluruh masyarakat untuk menjadi asas kuat bagi tegaknya hukum dan
pemerintahan Islam yang mantap dan utuh.
9. Wanita muslimah dapat memainkan peranan penting dalam amal Islami.
10. Memperhatikan generasi muda dengan mendidik kepribadian Islamnya.
11. Harus berusaha sungguh – sungguh mewariskan da’wah ini kepada generasi mendatang
dengan segala kemurnian, keaslian, keuniversalan dan pengalamannya.
12. Da’wah ini meliputi berbagai negara, bangsa dan warna kulit.
13. Dana adalah urat nadi amal Islami.
14. Memanfaatkan dengan sebaik – baiknya pengalaman dalam gerakan dan realitas
keragaman aktivitas Islami.
IV. Beberapa Petunjuk Dalam Bergerak. Petunjuk untuk seorang pemimpin agar dapat menjalankan roda da’wah ke arah yang lebih baik :
1. Memberikan perhatian yang menyeluruh terhadap tugas dan tanggung jawab.
2. Memiliki kepercayaan kuat terhadap tugasnya.
3. Setiap penanggung jawab harus menyusun program kerja lengkap.
4. Tepat dalam memilih petugas yang dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
5. Pemimpin dituntut mengatur waktu dan urusannya seefektif mungkin.
6. Selalu sadar dan tanggap demi terjaminnya perjalanan da’wah.
7. Memiliki kecekatan dan kekuatan tekad.
8. Menumpukkan perhatiannya kepada usaha yang sangat diperlukan, tidak perlu banyak
diskusi.
9. Menghindari memberikan satu pendapat dalam masalah khilafiyah.
10. Berkewajiban menjauhkan jama’ah dari terjerumus ke dalam permusuhan golongan.
11. Berda’wah adalah ibadah kepada ALLAH.
12. Harus percaya atas ketinggian moral anggotanya yang bertugas.
13. Tidak boleh membatasi aktivitasnya semata – mata untuk masa sekarang.
14. Ia harus benar – benar meningkatkan dan mengembangkan cara kerja, sarana serta
mutu.
15. Bertanggung jawab dalam menilai dan mengevaluasi amal dan hasil setiap saat.
16. Tidak boleh membanggakan dan menyanjung kemampuan, tenaga dan kelaikannya
yang menyebabkan seseorang terjerumus.
17. Tidak wajar mengkonsentrasikan segenap kegiatannya dalam urusan administrasi
semata dengan menyampingkan segi aktivitas dan mentalitas yang menjadi dasar
perjuangan.
18. Harus memiliki berbagai kelaikan untuk memudahkan perputaran roda kepepimpinan dan
amal usaha ketika terjadi suasana kritis.
19. Ukuran keutuhan dan kekompakkan kepemimpinan adalah kekuatan jama’ah dan
kepercayaan anggota terhadap kepemimpinannya.
20. Menjauhkan konflik dengan orang lain selama masih dapat dihindari.
21. Semangat pemuda harus dipelihara dan diarahkan serta selalu dikontrol.
22. Melindungi jama’ah dari munculnya berbagai aliran pemikiran yang bertentangan dengan
khiththah ( ketentuan ) jama’ah.
23. Tidak dibenarkan membiarkan terbentuknya kelompok tertentu yang berdasarkan suku,
kedaerahan dan semacamnya.
24. Menyelesaikannya dengan tenang dan tuntas serta penuh kebijaksanaan dalam
permasalahan.
25. Jika terdapat seorang yang lebih mampu dan baik, kepepimpinan dapat diserahkan
kepada orang lain.
V. Beberapa Petunjuk Pergaulan Antara Pemimpin Dan Anggota :
1. Pemimpin harus pandai memilih orang yang laik dalam memegang jabatan.
2. Tidak boleh bersikap pesimitis dan buruk sangka.
3. Pemimpin dapat bergaul rapat dengan anggotanya.
4. Memperbaiki pembagian tugas dan menentukan spesialisasi supaya tidak tumpang tindih.
5. Menentukan, mengatur dan memudahkan jalur komunikasi di setiap peringkat.
6. Berusaha sungguh – sunguh meningkatkan posisi kepemimpinan dan melatih anggota
sesuai dengan bidang masing – masing.
7. Penting memberikan kebebasan kepada anggota untuk memilih sarana dan cara yang
paling baik yang dapat membantu pelaksanaan tugasnya.
8. Selalu membangkitkan semangat kerja sama yang penuh kejujuran dengan anggota.
9. Harus membiasakan diri bermusyawarah dengan para anggotanya.
10. Menentukan keputusan dan perintah yang hendak dilaksanakan.
11. Diadakannya pertemuan rutin dengan sesama pengurus untuk menyelaraskan gerakan.
12. Memperhatikan setiap rangkaian dan mata rantai dalam komunikasi, tidak overlapping.
13. Perlu dikaji situasi yang menyebabkan anggota yang melakukan kesalahan tersebut.
14. Mewaspadai dalam menjalankan tindakan pemecatan dan pembekuan keanggotaan
karena kesalahan yang dilakukan.
15. Memperhatikan setiap anggota yang diberikan amanah dan cepat menegurnya jika
melakukan kesalahan.
16. Perlu mendorong dan meningkatkan semangat anggota yang menjalankan amanahnya.
17. Semua anggota bekerja semata – mata karena ALLAH .
18. Memiliki pengetahuan lengkap tentang perjalanan gerakan, pelaksanaan dan aktivitas
yang dilakukan para pelaksana.
19. Meminta pandangan dan saran anggota tertentu yang berguna kelancaran strategi
da’wah.
20. Anggota tidak boleh diberi amanah kecuali ia telah menguasai bidang tersebut.
21. Orang yang terlalu bersemangat sebenarnya sangat berbahaya jika diberikan amanah
yang strategis.
22. Meningkatkan moral anggotanya jika mengalami peristiwa ketidakberuntungan. ( Q.S 3 :
139 – 141 )
23. Memperhatikan kelurusan, keaslian dan kemantapan jalan da’wah serta menjauhi bentuk
penyimpangan.
24. Memadukan antara generasi pertama dan generasi penerus dalam setiap kegiatan.
25. Mewaspadai terhadap usaha musuh yang berpura – pura bergabung sebagai batu
loncatan untuk tujuan mereka.
26. Memelihara tabiat gerakan da’wah dengan seluruh potensi yang ada.
27. Waspada dan berhati – hati dalam mengeluarkan keputusan yang menyangkut darah
seorang muslim, kecuali setelah di cek dengan teliti.
Bagian 3
B. KEANGGOTAAN DAN TUNTUTANNYA.
I. Beberapa Persyaratan Pokok Seorang Aktivis :
1. Memahami benar arti komitmennya kepada Islam.
2. Mengenal karakter tahapan da’wah yang sedang dijalaninya beserta konsekuensinya.
3. Meyakini bahwa kembali kepada kitabullah dan sunnah rasul SAW secara benar dan
serius adalah satu – satunya jalan untuk menyelamatkan ummat Islam dari segala krisis.
4. Yakin akan kewajiban bergerak membangunkan iman di dalam jiwa manusia.
5. Harus mengetahui sejelas – jelasnya bahwa amal usaha menegakkan Daulah Islamiyyah
adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah.
6. Mengetahui bahwa kewajiban ini tidak mungkin terlaksana dan tercapai hanya dengan
usaha perseorangan.
7. Amal jama’i dipandang sebagai persoalan yang wajib ditunaikan sebelum melangkah
membangun kembali Daulah Islamiyyah.
8. Harus menyadari perlunya memilih jama’ah yang akan dimasukinya.
9. Harus meneliti sifat – sifat asasi jama’ah tersebut.
10. Harus mengetahui bahwa dasar Islam adalah kesatuan kata dan shaff. ( Q.S 3 : 103, 8 :
46 )
11. Dalam memilih harus dengan kesadaran sendiri, tidak karena desakan, paksaan, berpura
– pura tenggang rasa dan kepentingan lain.
12. Amal jama’i memiliki syarat dan keiltizaman yang harus diketahui.
13. Dasar ber-Amal jama’i semata – mata karena ALLAH. ( Q.S Al Fath : 10 )
14. Setiap anggota jama’ah harus menyadari akan kebaikan yang tak ternilai dengan
bergabungnya di dalam jama’ah yang memperjuangkan Islam secara benar.
15. Harus mengetahui bahwa persoalan terpenting di jalan da’wah ialah kesadaran terhadap
pengawasan ALLAH SWT.

II. Beberapa Keharusan Dan Perilaku Anggota Yang Harus Ditegakkan :
1. Menjadi seorang mu’min yang teguh dan yakin terhadap amal jama’i dengan segala
tuntutannya. ( Q.S Al Hajj : 77 – 78, Al Mu’minun : 115 – 116 )
2. Harus mengetahui secara mendalam segala ketentuan jama’ah.
3. Harus melengkapi diri dengan berbagai bidang kemampuan dan kelaikan agar menjadi
tenaga yang efektif, kuat dan baik.
4. Menyerahkan hidupnya untuk berjuang karena ALLAH dan menegakkan kekuasaan
agama ALLAH semata.
5. Keiltizamnya dengan arahan.
6. Beriltizam dengan pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh yang menjadi
landasan jama’ah.
7. Beriltizam dengan cara gerakan dan seluruh langkahnya sebagai mana yang telah
ditentukan jama’ah untuk mewujudkan tujuannya yang agung.
8. Menjadi pelindung terpercaya terhadap tujuan jama’ah.
9. Harus berani menempatkan dirinya di barisan jihad fiisabilillah. ( Q.S 9 : 111, Al Ankabut :
6 )
10. Harus mengetahui martabat jihad.
11. Berkewajiban melatih diri agar mudah berkorban di jalan ALLAH. ( Q.S 9 : 120 – 121 )
12. Harus menyadari bahwa sesungguhnya dia ibarat berkedudukan di suatu daerah
pertahanan yang strategis. ( Q.S Al Ahzab : 23 – 24 )
13. Ujian ( mihnah ) adalah sunnahtulloh dalam da’wah.
14. Pembela aqidah dan prajurit da’wah harus mengikhlaskan ketaatan dan kesetiaannya
( wala’ )
1. kepada da’wah Islamiyyah dan melepaskan diri dari yang lain. ( Q.S Almumtahanah : 4 )
15. Berkewajiban menanam dan mempersubur benih cinta – mencintai persaudaraan
sesama anggota. ( Q.S 9 : 71, 16 : 53 )
16. Membiasakan diri melaksanakan setiap perintah pimpinan jama’ah.
17. Memberikan kepercayaan penuh kepada pimpinan jama’ah.
18. Setiap anggota harus memiliki “ indera da’wah. ”
19. Memperhatikan pembentukan pribadi muslim yang spesifik dan mencintai kebenaran.
20. Menjauhi cara – cara partai politik yang jahat, kedaerahan, elitis dan yang bertentangan
dengan adab Islam.
21. Anggota ibarat pengawal di sebuah benteng pertahanan.
22. Menjauhi segala tindakan yang mempersukar barisan di dalam amal Islami.
23. Wajib beriltizam dengan sikap adil dan sederhana, tidak keterlaluan dan tidak
meremehkan.
24. Mempergiat makanisme saling nasihat – menasihati kepada kebenaran.
25. Perbaiki diri dan seru orang lain untuk berbuat baik.
26. Harus bersungguh – sunguh memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan sesama
aktivis.
27. Wajib menjaga waktunya dengan serius, berdisiplin, seluruh urusannya rapi, berguna
untuk manusia, mampu berusaha, mujahid untuk dirinya, waspada terhadap godaan
duniawi.
28. Harus memikirkan persoalan rumah tangga dan keluarganya.
29. Selalu menumbuhkan harapan di dalam hati keluarga dan saudara – saudaranya bahwa
masa depan adalah untuk Islam.
30. Tidak boleh merasa pesimis dan putus asa ketika menderita kekalahan di medan jihad
dalam menentang musuh. ( Q.S 3 : 139 – 142 dan 146 )
31. Harus menghiasi dirinya dengan seluruh akhlaq Islam dan menjauhi segala budi pekerti
buruk dan sifat – sifat yang dilarang Islam.
Panduan Imam Hasan Al Banna untuk para pemuda :
“ Wahai pemuda ! Fikroh ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas
kepadanya, punya semangat yang berkobar – kobar, kesiapan berkorban dan beramal untuk
mewujudkannya. Empat rukun ini : Iman, Ikhlas, semangat dan amal, merupakan ciri khas
pemuda. Sesungguhnya dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas ialah hati yang suci
murni, landasan semangat yaitu perasaan yang kuat dan amal adalah tekad yang selalu segar “.
ALLAH Berfirman : “ Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda – pemuda yang beriman kepada
Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. “ Q.S Al Kahfi : 13.

24 Februari 2010

Kisah Wezir yang Cemburu: Pangeran dan Hantu Pemakan Manusia

Pangeran dan Hantu Pemakan Manusia

Raja yang diceritakan tersebut memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Raja menugaskan seorang Wezir untuk menemaninya kemanapun ia pergi.

Suatu hari pangeran dan wezir pergi berburu ke hutan dengan ditemani serombongan kecil pengawal. Tiba-tiba seekor binatang buas muncul di hadapan mereka. Wezir berseru kepada pangeran, “kejar binatang itu!”
Maka pangeran mengejar binatang itu hingga tanpa ia sadari, ia telah terpisah dari rombongannya.

Binatang itu lari semakin cepat dan menghilang di tengah sabana. Saat itu barulah pangeran menyadari bahwa ia telah tersesat. Di tengah kebingungannya mencari jalan pulang, pangeran melihat seorang gadis yang sedang menangis. Ia menghampirinya dan bertanya siapakah ia.
“Aku adalah seorang putri raja dari India. Saat melewati padang sabana ini, tiba-tiba aku mengantuk dan tertidur sehingga aku jatuh dari kudaku. Begitu kerasnya aku terjatuh, hingga aku langsung tak sadarkan diri. Saat aku siuman, para pendampingku telah pergi dan aku tertinggal di sini,” katanya.

Pangeran merasa iba mendengarnya. Ia lalu membawanya bersamanya. Beberapa saat kemudian saat mereka melewati sebuah reruntuhan, gadis itu berkata, “Oh tuan, ijinkanlah aku untuk turun sebentar.”
Pangeran membantunya turun dan gadis itu segera menuju ke arah reruntuhan tersebut. Pangeran menunggu beberapa saat namun gadis itu tidak kunjung kembali. Karena khawatir terjadi sesuatu dengannya, maka ia memutuskan untuk menyusulnya.

Ia terkejut karena ternyata gadis itu tidak lain adalah hantu pemakan manusia. Ia mendengarnya berkata, “anak-anakku, hari ini aku membawakan kalian seorang pemuda yang gemuk.”
“Bawa kemari segera, oh ibu. Kami sudah tidak sabar untuk memakannya,” kata hantu lainnya.

Pangeran gemetar ketakutan. Ia merasa dia tak akan sanggup melawan dan kali ini ia akan mati. Hantu wanita itu mendekati pangeran yang ketakutan.
“Mengapa kau ketakutan?” tanyanya.
“Aku memiliki musuh yang sangat aku takuti,” jawab pangeran.
“Bukankah kamu seorang pangeran?” tanyanya.
“Ya!”
“Kenapa tidak kau beri saja musuhmu itu uang, lalu berdamai dengannya?” tanyanya.
“Dia bukan tertarik pada uangku, yang ia inginkan hanyalah nyawaku! Aku ini adalah orang yang tak berdaya,” jawab pangeran.
“Kalau kau tidak berdaya, kenapa kau tidak berdoa kepada Alloh dan meminta pertolongan? Dia akan menolongmu menyingkirkan musuhmu itu!” katanya.

Pangeran segera menegadahkan tangannya dan berdoa, “Ya Alloh yang mengabulkan semua doa. Wahai Engkau yang dapat menghalau semua kajahatan, lindungilah aku. Dan jauhkanlah ia yang bermaksud buruk padaku. Karena hanya Engkaulah yang Maha Kuasa…”

Hantu itu tidak bisa lagi mendengar kelanjutan doa pangeran, karena sebuah kekuatan ghaib telah membuatnya menghilang dari hadapan pangeran. Maka pangeran pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan pulang ke kerajaannya. Ia melaporkan peristiwa yang dialaminya.
Lalu raja memerintahkan untuk memeberikan hukuman yang berat kepada Wezir yang gagal melindungi putranya.



The Quran on Deep Seas and Internal Waves

Allah said in the Quran:
Or (the unbelievers' state) is like the darkness in a deep sea. It is covered by waves, above which are waves, above which are clouds. Darkness, one above another. If a man stretches out his hand, he cannot see it...
[Noble Quran 24:40]

This verse mentions the darkness found in deep seas and oceans, where if a man stretches out his hand, he cannot see it. The darkness in deep seas and oceans is found around a depth of 200 meters and below. At this depth, there is almost no light. Below a depth of 1,000 meters there is no light at all [Oceans Elder and Pernetta p.27].

Human beings are not able to dive more than forty meters without the aid of submarines or special equipment. Human beings cannot survive unaided in the deep dark part of the oceans, such as at a depth of 200 meters.

Scientists have recently discovered this darkness by means of special equipment and submarines that have enabled them to dive into the depths of the oceans.

We can also understand from the following sentences in the previous verse, "..in a deep sea. It is covered by waves, above which are waves, above which are clouds,..." that the deep waters of seas and oceans are covered by waves, and above these waves are other waves.

It is clear that the second set of waves are the surface waves that we see, because the verse mentions that above the second waves there are clouds. But what about the first waves? Scientists have recently discovered that there are internal waves which "occur on density interfaces between layers of different densities." [Oceanography, Gross, p. 205].

The internal waves cover the deep waters of seas and oceans because the deep waters have a higher density than the waters above them. Internal waves act like surface waves. They can also break just like surface waves. Internal waves cannot be seen by the human eye, but they can be detected by studying temperature or salinity changes at a given location.

Water covers so much of the earth and even mixes with the land in rivers and streams. Yet is there something keeping it from mixing with itself? What is contained in this mystery of separation of waters?

17 Februari 2010

Keikhlasan Cinta

keikhlasan cinta - istikharah
Ketika hati mu mulai berubah
Kaupun pergi meninggalkanku
Ku takkan memaksa agar kau kmbali padaku
Kutakkan memeinta yg tak mau kau berikan padaku
Karena yg kuberikan padamu adalah sesuatu yg tulus dan ikhlas
Kutak mengharap balasan atas apa yg yg tlah kuberi
Karna bagiku menyinta sama dengan memberi dgn ikhlas
Biarlah kuhapus cemburu demi bahagiamu
Kukan selalu berusaha tuk sll tersenyum tandanya ku tiada seteru
Kutakkan berduka ,karna yg yg ku harap bukanlah milikku
Moga kelak kudapat yg benar2 membutuhkan ku
Yg bisa kujadikan sejatiku
:::

15 Februari 2010

Bukan Romeo & Juliet (Kasihanilah Para Pecinta)


Kedua mahasiswa itu ternyata saling mencintai. Tak ada kata yang diungkapkan. Tapi cinta punya bahasanya sendiri yang lebih indah dari sekedar kata-kata. Sutau bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Di kampus dan bangku kuliah itu cinta mereka bersemi. Di tengah kelas dan lembaran-lembaran kertas kuliah itu cinta mereka bertemu dengan bahasanya sendiri.

Tapi cinta pemuda aktivis dengan gadis inocent itu kandas. Kasih mereka tak sampai kepelaminan. Perbedaan manhaj dan harakah membuat keduanya tak bertemu. Pemuda itu tsiqah pada harakahnya. Ia hanya ingin menikah dengan gadis yang satu harakah dengannya. Tragis. Tragis sekali. Hanya karena berbeda harakah. Karena di hati siapapun cinta yang suci dan tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui disisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah SAW lantas bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan.”

Islam memang begitu. Sebab ia agama kemanusian. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif terhadap semua gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan kemanusian yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai Islam.

Itu karena Islam memahami betapa dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada lelah. Tak ada takut. Tak ada jarak. Tak ada aral. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya rindu, hanya puisi, hanya keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara ke jantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak menyatu bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapa pun yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak arjuna yang sedang jatuh cinta : separoh nafasku terbang bersama dirimu.

Bisakah kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisah tradisi, status sosial, organisasi atau apa saja? Tragedi Zaenudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, atau Qais dan Laila dalam Majnun Laila, terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit. Karena di alam jiwa seharusnya itu mustahil. Tragedi cinta selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab itu, kata Anis Matta, memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai adalah misi terbesar syetan. Sebab itu menjodohkan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah tradisi kenabian.

Suatu ketika, pemuda itu bercerita padaku dengan matanya yang berbinar. “Bukan!” , katanya. “Aku bukan Romeo yang diperbudak oleh cinta hingga harus mati demi Juliet yang pura-pura mati. Aku bukan Qais yang menjadi gila karena Laila. Aku telah serahkan hidup ini untuk Allah dan dakwah ke jalanNya. Aku mencintai jamaah dakwah ini. Aku tak mungkin menyakiti jamaah dakwah ini dengan ikut andil membiarkan banyak akhwat yang tersisih dan menangis dalam penantian. Sedangkan ikhwannya justru memilih akhwat lain diluar jamaah.”

Kawan, aku tahu kau bukan Romeo. Aku tahu kau tak segila Qais. Aku hormati kecintaanmu pada dakwah. Tapi kau harus tahu tentang dirimu. Kau juga manusia. Perasaanmu juga perasaan yang dirasakan jutaan manusia dibelahan bumi yang lain. Apakah dakwahmu harus dengan yang satu harakah? Bukankah Islam rahmatan lil ‘alamin?

Kau bukan berada dalam pilihan dan perseteruan? Allah menguji hatimu sebagai jundiNya. Apakah kau mampu menempatkan Allah dalam istana hatimu atau kah dia, gadismu? Aku mampu melihat sorot matamu yang jujur. Tingkahmu yang menjaga kesucian. Dan keteguhanmu dalam memegang prinsip. Tapi tidak kawan. Tidak harus satu harakah. Tapi Rasulullah menganjurkan yang baik agamanya . Bukankah peradaban Islam itu dibangun melalui keluarga? Bukankah keluarga adalah batu-bata yang menyusunnya? Bukankah menyusunnya itu dengan merekatkan batu bata yang satu dengan yang lain? Bukankah itu semua harus ada unsur ukhuwah? Alangkah indahnya jika pernikahan yang berbeda harakah justru merekatkan ukhuwah antar harakah yang membinanya.

Untuk surplus akhwat dalam suatu jamaah, bukankah pernikahan berbeda harakah bisa jadi solusi? Wallahualam.

Sekarang jika gadismu itu seorang wanita shalihah, cerdas dan cantik sekaligus. Lalu ia mencintaimu? Apakah kau tak ingin menikahinya? Masihkah kau harus istikharah? Lalu berfatwalah pada hatimu?


KETIKA AKTIFIS DAKWAH JATUH CINTA


Suatu ketika dalam majelis koordinasi, seorang akhwat berkata kepada mas'ul dakwahnya, "Akhi, ana gak bisa lagi berinteraksi dengan akh Fulan." Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali ia menekan perasaannya. "Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi, dan... Afwan, terus terang juga tersinggung." Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu timbul tenggelam, "ikhwan itu mengatakan... ia jatuh cint a pada ana."

Mas'ul terbut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. "Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan,"

Sang mas'ul mencoba mene nangkan, terutama untuk dirinya sendiri.

"Afwan... ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berfikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit-banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen, dan me njadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini." Sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

"Ya sudah... Ana berharap anti tetap istiqomah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini." Mas'ul itu membuat keputusan, "ana akan ajak bicara langsung akh Fulan."
Beberapa waktu berlalu, ketika akhirnya Mas'ul tersebut mendatangi Fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, "Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu satu kesalahan?"

Sang Mas'ul berusaha menanggapinya searif mungkin. "Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan it u. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan ini kepada pembina antum untuk diseriuskan. Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari per-nyataan a ntum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah???" Mas'ul tersebut membuat penekanan substansial. "Akhi... bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron, atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansidakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT Petasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan".

Cinta Aktivis Dakwah
Bagaimana ketika perasaan i tu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?
Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah saw dan jalan meraih Ridho Allah SWT

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rasulu llah, dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya, dan berkahlah amal yang terwujud oleh perasaan cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenanya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana.

Ketika ikhwan mulai tergetar hatinya terhadap akhwat, dan demikian sebaliknya, ketika itulah cinta 'lain' muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang kita bahas kali ini. Ya itu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis, adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif'yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda Kartini, "...akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada di samping seorang laki-laki yang cakap... lebih banyak kata saya... daripada yang dapat saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri..."

Cinta memiliki dua mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama, dan sisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta.' Jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan, adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta
Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta di atas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadian manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, seb agian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta di dewakan, dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa, dan eksploitasi ketujuran manusia. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan ke Surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat di sana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah berbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, buah dakwah yang kita gagas. Sudah banyak potret keluarga baru dalam masyarakat yang kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik 'asing' dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi, dan nuansa cinta kita masih terkesan 'misteri'. Pertanyaan sederhana, "Gimana sih, kok kamu bisa nikah dengannya, padahal kan baru kenal . Emang kamu cinta sama dia?", dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan 'Nikah dulu Baru Pacaran' masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, "Bagaimana caranya, emang bisa?". Sangat sulit bagi masyar akat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi, dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wajah yang berbeda. Memberikan alternatif bagi masyarakat untuk melihat cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang menjaga diri dari p enyimpangan, penyelewengan, dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak.

Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton, dan seabrek romantika yang berdiri di atas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakat tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan kepada akhwa t, tentang perhatian seorang akhwat kepada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat, dan tentang landasan dan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak di buka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyettainya. Paling tidak gambaran besa r yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Epilog
Setiap kita yang mengaku putra putri Islam, setiap kita yang berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fii sabilillah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapk an Rasulullah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang amanah dakwah kita. Dengan perasaan inilah kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.
Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan. Dengan cinta itu juga meteka menghiasi bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat tersebut dengan lahirnya anak-anak shaleh yang mem-beratkan bumi dengan kalimat Laa ilaaha illallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Jadi... sudah berani Jatuh Cinta...?

Wallahu 'alam.